Ana Abdullah! Ucapan apalagi yang lebih menggetarkan dari itu semua. Saat semua berlomba membesarkan dan memamerkan diri dengan apa yang dimilki. Ana Abdullah! Ketika diri berada di tengah kerumunan orang-orang besar yang memilki nama, tentang talenta dan kelebihan yang dimiliki orang-orang tersebut, tentang apa yang tak kita punya dari itu semua, maka tak lain jawabnya Ana Abdullah.
aq rndu. menggelar tikar kebrsmaan d rerumputn taman. d samping tnaman bonsai d tepi lapangn. bercengkrama,bercerita, kadang tanpa kata. It kali ptma aq mrasa pnya sesuatu. Saudara namanya. Lepas dr ptemuan d tman it, krap aq rndu ptmuan yg sma. Duduk bsila di ats permadani alam, dg menu bebrapa ksah n pngalman hdup, saling menkmati kelezatan berbagi kala itu
Assalamualaikum.......
aku mencintaimu karena Allah..utuh..tak akan luruh. sekerlip mata memandang ke taman-taman penghayatan. seumpama ketegaran karang dikagumi semesa.
Aku mencintaimu karena Allah. Buah yang lahir dari bunga-bunga kedamaian. Bunga yang muncul dari putik kepercayaan.
Aku mencintaimu..Seperti ombak mencintai daratan...seperti burung mencintai udara lepas. Akankah seperti Sang Nabi? pada para shahabat beliau terlampau cinta. Menggerakkan imani pada jiwa-jiwa. Menggerakkan ruh-ruh pada jasad yang kuat.
Jikalah terlalu berlebihan, semoga DIA menyederhanakan sebuah pinta.
Wassalamu'alaikum
Assalamualaikum Sobat..
Pertanda kita pernah bertemu di dunia maya melalui blog ini, mari tinggalkan jejakmu di sini sobat. Pesan dan kesan serta beragam inspirasi, guratkanlah di JEJAK PENGUNJUNG ini.
Wassalamualikum.....
Pertanda kita pernah bertemu di dunia maya melalui blog ini, mari tinggalkan jejakmu di sini sobat. Pesan dan kesan serta beragam inspirasi, guratkanlah di JEJAK PENGUNJUNG ini.
Wassalamualikum.....
Seumpama kita terpinggir dalam zona yang alit. Terkubur dalam kekerasan masa silam. Nelangsa di selingkung ke-megalomania-an
Seumpama kita terlempar ke masa yang belum kita kuasai. Berderai-derai derita yang kita tak pahami arti.
Murung mengurung jejak-jejak tapak. Menyesali zaman tak lagi ajeg.
Murung mengurung jejak-jejak tapak. Menyesali zaman tak lagi ajeg.
Sesulit itu kita mengaca hidup, kawan. Bak terlantun dalam benak. Kenestapaan itu ulah takdir.
Ah, yang kita bahas itu-itu saja. terlalu sering berdebat dengan Pemberinya.
Maka wajar kita menunduk dalam malu di Masyar yang tak lenggang oleh khalayak.
A contemplation after complaint
Langganan:
Postingan (Atom)
