aq rndu. menggelar tikar kebrsmaan d rerumputn taman. d samping tnaman bonsai d tepi lapangn. bercengkrama,bercerita, kadang tanpa kata. It kali ptma aq mrasa pnya sesuatu. Saudara namanya. Lepas dr ptemuan d tman it, krap aq rndu ptmuan yg sma. Duduk bsila di ats permadani alam, dg menu bebrapa ksah n pngalman hdup, saling menkmati kelezatan berbagi kala itu
Assalamualaikum.......
aku mencintaimu karena Allah..utuh..tak akan luruh. sekerlip mata memandang ke taman-taman penghayatan. seumpama ketegaran karang dikagumi semesa.
Aku mencintaimu karena Allah. Buah yang lahir dari bunga-bunga kedamaian. Bunga yang muncul dari putik kepercayaan.
Aku mencintaimu..Seperti ombak mencintai daratan...seperti burung mencintai udara lepas. Akankah seperti Sang Nabi? pada para shahabat beliau terlampau cinta. Menggerakkan imani pada jiwa-jiwa. Menggerakkan ruh-ruh pada jasad yang kuat.
Jikalah terlalu berlebihan, semoga DIA menyederhanakan sebuah pinta.
Wassalamu'alaikum
Assalamualaikum Sobat..
Pertanda kita pernah bertemu di dunia maya melalui blog ini, mari tinggalkan jejakmu di sini sobat. Pesan dan kesan serta beragam inspirasi, guratkanlah di JEJAK PENGUNJUNG ini.
Wassalamualikum.....
Pertanda kita pernah bertemu di dunia maya melalui blog ini, mari tinggalkan jejakmu di sini sobat. Pesan dan kesan serta beragam inspirasi, guratkanlah di JEJAK PENGUNJUNG ini.
Wassalamualikum.....
Seumpama kita terpinggir dalam zona yang alit. Terkubur dalam kekerasan masa silam. Nelangsa di selingkung ke-megalomania-an
Seumpama kita terlempar ke masa yang belum kita kuasai. Berderai-derai derita yang kita tak pahami arti.
Murung mengurung jejak-jejak tapak. Menyesali zaman tak lagi ajeg.
Murung mengurung jejak-jejak tapak. Menyesali zaman tak lagi ajeg.
Sesulit itu kita mengaca hidup, kawan. Bak terlantun dalam benak. Kenestapaan itu ulah takdir.
Ah, yang kita bahas itu-itu saja. terlalu sering berdebat dengan Pemberinya.
Maka wajar kita menunduk dalam malu di Masyar yang tak lenggang oleh khalayak.
A contemplation after complaint
Seorang yang Menulis
Diposting oleh Sang Petualang di Rabu, April 13, 2011 Label: kepenulisan, Kontemplasi Seorang yang menulis (apapun yang ditulisnya) sesungguhnya tanpa disadari telah beranjak dari sekitarnya ketika ia menulis. Ketika itu pikiran dan jiwanya bebas mengembara pada satu dimensi dimana ia menghendakinya. Ia sendiri barang kali hidup di realita yang tak sama dengan lingkungan dan kesehariannya. Sebuat saja ketika seseorang misalanya menulis puisi, meski sehari-hari dipekakkan dengan hiruk pikuk lingkungannnya, tapi tetap bisa menghadirkan deskripsi akan kesejukan, ketenangan, kedamaian yang seolah benar-benar ia rasa, dan berada pada wilayah yang diciptakannya itu.
Lebih jauh, seorang yang menulis adalah seorang yang merdeka dengan kehendak dan peribadinya. Secara ‘alamaiah’ ia tentu tak akan mungkin menulis sesuatu yang berseberangan dengan suara hatinya, dengan apa yang menjadi pemikiran-pemikirannya meski kadang antara suara hati, pikiran itu dan realitanya agak berjauhan karena kelemahannya, namun tetap saja yang ditulis itu adalah kejujuran dari hatinya. Ia tak bisa dipaksa untuk mengikuti kecenderungan yang berlaku di dunia (trend) sebab ia mempunyai prinsip personal yang tak ada siapa yang memengaruhinya.
Langganan:
Postingan (Atom)
